Mediasuarabangsa.com //Banyuwangi – Ketua Aliansi Rakyat Bersatu (ARB), Muji Mandar, secara tegas menyatakan penolakannya terhadap rencana keberadaan Kampung Rusia di wilayah Kota Banyuwangi. Ia menilai kehadiran kampung tersebut berpotensi menimbulkan polemik sosial serta mengganggu stabilitas masyarakat lokal jika tidak dikaji secara matang.

Dalam pernyataannya kepada awak media, Muji Mandar menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak investasi asing secara keseluruhan, namun meminta agar pemerintah daerah lebih selektif dan transparan dalam menerima konsep pembangunan yang melibatkan unsur budaya dan komunitas luar negeri.

“Banyuwangi memiliki kearifan lokal yang harus dijaga. Jangan sampai ada konsep pembangunan yang justru menimbulkan ketimpangan sosial atau konflik di tengah masyarakat,” ujarnya.

Selain menyoroti isu tersebut, Muji Mandar juga mendesak aparat penegak hukum untuk segera bertindak tegas terkait kasus penganiayaan yang terjadi di kawasan Pantai Boom beberapa waktu lalu. Ia menilai penanganan kasus tersebut harus dilakukan secara cepat dan adil demi menjaga rasa aman masyarakat.

“Kasus penganiayaan di Pantai Boom tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Kami mendesak aparat untuk segera menangkap dan mengadili pelaku sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

Menurutnya, tindakan kekerasan yang terjadi di ruang publik dapat mencoreng citra Banyuwangi sebagai daerah tujuan wisata. Oleh karena itu, ia berharap aparat kepolisian dapat bekerja profesional dan transparan dalam mengusut kasus tersebut.

ARB, lanjut Muji Mandar, akan terus mengawal perkembangan kedua isu tersebut sebagai bentuk komitmen terhadap kepentingan masyarakat. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga kondusivitas serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.

Pemerintah daerah hingga saat ini belum memberikan keterangan resmi terkait rencana Kampung Rusia maupun perkembangan terbaru kasus penganiayaan di Pantai Boom. Masyarakat pun menunggu langkah konkret dari pihak berwenang dalam merespons berbagai kekhawatiran yang muncul.

Jurnalis : Hendro MSB.