Mediasuarabangsa.com //Jakarta – Penunjukan pucuk pimpinan tertinggi Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat yang baru menuai kritik tajam dari publik. Langkah ini dinilai tidak berbasis pada kompetensi akademik yang sesuai dengan bidang kerja lembaga, melainkan kental dengan unsur politis.
Publik mempertanyakan alasan di balik terpilihnya sosok yang dianggap tidak memiliki rekam jejak atau kompetensi di bidang gizi untuk memimpin lembaga sebesar BGN. Kondisi ini memicu analisis di tengah masyarakat bahwa tolok ukur pembangunan bangsa saat ini bukan lagi didasarkan pada keahlian, melainkan pada aspek kepatuhan dan kemudahan untuk dikendalikan oleh pihak tertentu.
Kritik ini semakin menguat menyusul momentum pergantian jabatan yang terjadi di tengah situasi ekonomi nasional yang genting. Penangkapan mantan Wakil Kepala (Wakabadan) BGN terjadi hampir bersamaan dengan anjloknya nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp18.000 per dolar AS—sebuah rekor terburuk sepanjang sejarah.
Ironisnya, alih-alih menunjuk pakar gizi yang mumpuni untuk memulihkan stabilitas internal lembaga pasca-kasus hukum tersebut, pemerintah justru menempatkan figur non-kompeten di posisi tertinggi BGN. Hal ini memperkuat dugaan adanya muatan politis di balik perombakan struktural tersebut.
Selain sarat kepentingan politik, momentum penangkapan eks Wakabadan BGN dan perombakan cepat ini diduga sengaja dirancang sebagai upaya pengalihan isu (smokescreen). Langkah tersebut dinilai bertujuan agar fokus dan bidikan kritik masyarakat beralih dari performa pemerintah pusat dalam menangani krisis ekonomi ke arah kasus dugaan korupsi di tubuh BGN.
Saat ini, dampak anjloknya rupiah sangat dirasakan langsung oleh masyarakat seiring melambungnya harga berbagai kebutuhan pokok. Di tengah situasi sulit ini, publik menyayangkan mengapa lembaga strategis seperti BGN harus dipimpin oleh seseorang yang tidak menguasai bidangnya.
Bagaimana sebuah lembaga besar yang mengurusi hajat hidup orang banyak bisa berjalan efektif jika dipimpin oleh sosok yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang kerjanya.
Editor : Koko.

