Mediasuarabangsa.com //Banyuwangi – Menurut OWNER ARB ( Aliansi Rakyat Banyuwangi ) Mujiono atau yang lebih akrab di panggil MUJI MANDAR, Banyak orang gagal paham. Dikiranya Gandrung Sewu itu cuma tari-tarian. Cuma seribu penari di pinggir pantai. Cuma habisin APBD.
Padahal mereka tidak melihat apa yang terjadi di balik layar.
Gandrung Sewu itu bukan acara budaya. Itu adalah ” MESIN EKONOMI ”
Masih Menurut MUJI MANDAR, Jika kita melihat Kabupaten lain, Banyuwangi ini Masih bisa mempertahankan nama besar nya di kancah internasional di banding Kabupaten2 lainnya, coba perhatikan ini :
1. PAD NAIK, BUKAN TURUN
Satu event Gandrung Sewu mendatangkan 30.000 sampai 50.000 penonton dari luar Banyuwangi. Mereka datang naik pesawat, nginap di hotel, makan di warung, sewa homestay, beli oleh-oleh, sewa ojek, parkir.
Hotel penuh. Itu pajak hotel naik.
Restoran penuh. Itu pajak restoran naik.
Parkir penuh. Itu retribusi naik.
Bandara rame. Itu ekonomi bergerak.
Satu hari event, PAD yang kembali bisa berkali-kali lipat dari biaya produksi eventnya. Ini bukan belanja, ini INVESTASI.
2. UMKM NAIK KELAS, BUKAN CUMA JUALAN
Siapa yang paling diuntungkan Gandrung Sewu? Bukan penari. Tapi UMKM.
Ibu-ibu pembuat kue di Kampung Mandar, sebulan sebelum event sudah dapat order ribuan kotak snack.
Pengrajin batik di Temenggungan, kainnya ludes dibeli wisatawan.
Penjual sovenir di Pantai Boom, omsetnya naik 10 kali lipat dalam 3 hari.
Pedagang kopi, pedagang pecel, tukang parkir, semua dapat rejeki.
Gandrung Sewu adalah panggung gratis terbesar untuk UMKM Banyuwangi naik kelas. Dari yang jualan di teras rumah, bisa dikenal satu Indonesia. Dari yang omset ratusan ribu, bisa tembus puluhan juta.
Mana ada program UMKM yang se-efektif ini? Kalau cuma pelatihan di balai desa, tidak ada yang beli. Tapi di Gandrung Sewu, ribuan pembeli datang sendiri.
3. BRANDING BANYUWANGI MENDUNIA
Gandrung Sewu itu diliput TV nasional, masuk YouTube, viral di TikTok, masuk Instagram. Nilai promosi ini kalau dibayar ke agency, bisa habis miliaran.
Tapi Banyuwangi dapat gratis, karena budayanya yang Otentik.
Orang yang awalnya tidak tahu Banyuwangi di mana, setelah lihat Gandrung Sewu langsung googling: “Banyuwangi itu di mana? Bagus ya, kapan bisa ke sana?”
Itulah cara cerdas Banyuwangi. Tidak perlu pasang iklan mahal-mahal. Cukup gelar budaya, dunia datang sendiri.
Jadi berhenti bilang Gandrung Sewu itu pemborosan.
Justru yang boros itu kalau kita punya budaya sekelas dunia tapi tidak kita jual.
Banyuwangi sudah membuktikan: Melestarikan budaya BISA sambil mensejahterakan rakyat. Menari BISA sambil menghasilkan PAD. Tradisi BISA sambil UMKM naik kelas.
Gandrung Sewu bukan sekedar tontonan. Tapi tuntunan ekonomi untuk Banyuwangi.
Penulis : Mujiono
OWNER : ARB. ( Aliansi Rakyat Banyuwangi ).
Editor: Koko

