Mediasuarabangsa.com //Banyuwangi – Momentum Ramadhan yang seharusnya menjadi ajang mempererat silaturahmi antara aparat penegak hukum dan insan pers diwarnai ironi tajam. Agenda buka bersama yang melibatkan jajaran Polresta Banyuwangi bersama media justru memunculkan istilah satir di kalangan wartawan: “buka bersama minum air hujan.”
Istilah tersebut bukan tanpa makna. Ia lahir sebagai simbol kekecewaan dan kritik terhadap dugaan perlakuan yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan semangat kebersamaan, kesetaraan, dan keterbukaan.
Ramadhan, Silaturahmi, dan Realitas yang Dipertanyakan
Ramadhan identik dengan kebersamaan, kehangatan, dan persaudaraan tanpa sekat. Namun, ketika muncul persepsi adanya pengkotakan atau pembedaan perlakuan terhadap sebagian wartawan, makna kebersamaan itu menjadi dipertanyakan.
Sebagian insan pers menyebut, acara yang seyogianya menjadi ruang silaturahmi justru menghadirkan kesan eksklusivitas. Dari sinilah muncul satire “minum air hujan”—sebuah metafora tentang kebersamaan yang terasa tidak utuh.
Apakah ini sekadar miskomunikasi teknis? Ataukah cerminan pola relasi yang perlu dievaluasi?
Simbol Kritik terhadap Transparansi
Sebagai mitra strategis aparat penegak hukum, wartawan memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada publik. Hubungan yang sehat seharusnya dibangun di atas dasar profesionalisme dan kesetaraan.
Ketika ada dugaan sebagian insan pers merasa tersisih atau diperlakukan berbeda, maka yang terdampak bukan hanya individu, melainkan citra institusi itu sendiri.
Dalam konteks ini, “minum air hujan” menjadi simbol :
Kritik terhadap dugaan ketidakterbukaan.
Refleksi atas pentingnya kesetaraan perlakuan.
Pengingat bahwa marwah profesi harus dihormati.
Polresta Banyuwangi di Titik Evaluasi
Sebagai institusi negara, Polresta Banyuwangi memiliki tanggung jawab menjaga integritas dan kepercayaan publik. Kepercayaan itu dibangun bukan hanya lewat penegakan hukum, tetapi juga melalui komunikasi publik yang adil dan transparan.
Momentum Ramadhan seharusnya menjadi ruang memperkuat sinergi, bukan memunculkan polemik. Evaluasi internal terhadap mekanisme komunikasi dan koordinasi dengan media menjadi langkah penting untuk meredam persepsi negatif yang berkembang.
Insan Pers : Tetap Profesional, Tetap Bermartabat
Terlepas dari dinamika yang terjadi, insan pers Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional, berimbang, dan sesuai kode etik jurnalistik.
Kritik yang muncul bukan untuk memperuncing konflik, melainkan sebagai alarm agar hubungan kelembagaan berjalan lebih sehat ke depan.
Ramadhan adalah bulan introspeksi. Jika satire “buka bersama minum air hujan” kini menjadi perbincangan, maka semestinya ia dibaca sebagai pesan moral: kebersamaan tidak boleh bersifat simbolik, tetapi harus nyata dan dirasakan setara oleh semua pihak.
Banyuwangi membutuhkan sinergi yang tulus antara aparat dan media. Karena tanpa transparansi dan penghormatan terhadap profesi, keindahan Ramadhan hanya akan menjadi seremoni tanpa makna.
Editor : Koko.

