Mediasuarabangsa.com //Sulawesi Tengah – Di bawah langit yang sarat makna spiritual, gelaran Haul Aulia Guru Tua ke-58 menjadi momentum bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga pertemuan jejak sejarah, garis keturunan, dan loyalitas yang teruji oleh waktu. Dalam suasana penuh khidmat itu, nama Agus Flores kembali mencuat membawa kisah panjang yang berakar dari tanah Jawa hingga Sulawesi.
Dengan penuh hormat, izin disampaikan kepada Kapolri Listyo Sigit Prabowo, sebagai simbol penghormatan terhadap institusi dan perjalanan pengabdian yang turut mengalir dalam darah Agus Flores.
Di balik kehadirannya di Sulawesi Tengah, tersimpan silsilah keluarga yang bukan sembarangan. Ia merupakan cucu dari Almarhum Ulama besar KH. Abdul Rozak Soleh, pendiri Pondok Pesantren Miftaful Ulum Besuki, Situbondo sebuah lembaga pendidikan Islam yang telah berdiri sejak masa penjajahan Belanda. Sosok yang dikenal sebagai Mbah Sholeh itu bukan hanya ulama, tetapi juga pejuang kemerdekaan dari kalangan santri, yang mengabdikan hidupnya untuk bangsa dan agama.
Keluarga besar Agus Flores dikenal sebagai perpaduan dua kekuatan sosial: kalangan kiai yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, serta priyayi yang menjaga warisan budaya Jawa. Sebuah garis keturunan yang melahirkan karakter tegas, berwibawa, namun tetap berakar pada nilai spiritual.
Namun tak hanya dari Jawa, takdir membawanya lahir di Sulawesi Tengah tanah yang kemudian melekatkan julukan “Flores” di belakang namanya. Julukan itu bukan tanpa cerita.
Ayahnya, R. Kusnandar Sunyoto Hadinoto, pernah menapaki jalan militer dengan masuk AKABRI tahun 1968 di Sukabumi. Namun jalan hidup berkata lain. Ia memilih mundur, mengikuti jejak keluarga yang terhubung dengan BUMN PT Adhi Karya, lalu hijrah ke Sulawesi Tengah sebuah keputusan yang mengubah garis sejarah keluarganya.
Di tanah rantau itulah, Kusnandar bertemu dengan seorang perempuan dari Flores putri seorang komandan polisi bernama Andrias Ade. Sosok Andrias Ade sendiri bukan figur biasa. Ia dikenal sebagai bagian dari tim elit kepolisian yang pernah ditugaskan oleh Kapolri kedua, Soekarno Djojonegoro, untuk menumpas pemberontakan di Kalimantan dan Sulawesi.
Dari pertemuan dua garis kuat ulama pejuang dan aparat negara lahirlah Agus Flores. Sosok yang disebut-sebut sebagai “campuran dua darah elit negara”: setengah kiai, setengah polisi.
Karakter itu pun terbentuk jelas tegas, loyal, namun tetap berpijak pada nilai-nilai keimanan. Dalam perjalanan hidupnya, Agus Flores dikenal dekat dengan lingkar kekuasaan nasional, bahkan disebut sebagai bagian dari orang-orang yang setia mendampingi Presiden ke-6 dan ke-7 RI, Joko Widodo, selama lebih dari satu dekade.
Di tengah derasnya arus zaman, satu prinsip yang terus ia pegang teguh:
“Setia itu tanpa batas.”
Kini, di Haul Guru Tua ke-58, kehadirannya bukan sekadar menghadiri acara. Ia membawa warisan, identitas, dan cerita panjang tentang bagaimana darah ulama dan aparat negara bisa menyatu dalam satu sosok menjadi simbol pengabdian lintas generasi.
Editor : Koko.

