Mediasuarabangsa.com //Banyuwangi – Di sudut Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi, hidup seorang ayah bernama Suprayitno yang kini menjalani hari-harinya di atas gerobak tua. Hidupnya berubah drastis setelah musibah menimpanya beberapa tahun silam. Dulu, Suprayitno adalah seorang pekerja keras yang mengabdikan diri di sebuah perusahaan swasta, tepatnya di salah satu diler otomotif sebagai petugas kebersihan. Demi menambah penghasilan untuk istri dan anak semata wayangnya yang kala itu baru berusia empat tahun, ia tak segan membantu pekerjaan teman di luar jam kerja.

Namun, takdir berkata lain. Suatu hari, saat sedang membersihkan area kerja, meja yang dinaikinya tiba-tiba rapuh. Salah satu kakinya terperosok dan menahan beban tubuhnya secara tidak seimbang. Sejak kejadian itu, kondisi fisiknya perlahan menurun. Awalnya hanya kesemutan dan nyeri, namun lama-kelamaan kedua kakinya lumpuh total. Dokter menduga Suprayitno mengalami kelainan pada saraf tulang belakang yang menyebabkan tulangnya keropos dan kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh.

Musibah itu menjadi awal dari penderitaan panjang. Istrinya yang semula setia, tak kuat menanggung beban hidup dan akhirnya pergi bersama pria lain. Suprayitno yang lumpuh dan kehilangan pekerjaan harus berjuang sendirian mengasuh anak kecil tanpa penghasilan tetap. Hidupnya berubah menjadi perjuangan tanpa akhir, di mana setiap hari adalah pertarungan antara harapan dan kenyataan.

Kini, Suprayitno hanya bisa mengandalkan belas kasihan orang-orang di sekitarnya. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya yang juga hidup dalam keterbatasan. Sang ayah sudah buta, sementara ibunya bekerja serabutan untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka bertiga menggantungkan hidup dari bantuan sosial pemerintah dan uluran tangan tetangga yang peduli.

Gerobak tua yang kini menjadi tempat tinggal Suprayitno bukan sekadar alat bantu, melainkan rumah sekaligus saksi bisu perjuangannya. Di atas gerobak itu, ia tidur, makan, dan menatap langit malam dengan doa agar suatu hari hidupnya bisa berubah. Meski tubuhnya lumpuh, semangatnya untuk bertahan hidup tak pernah padam. Ia masih berusaha tersenyum, terutama ketika melihat anak perempuannya yang kini mulai tumbuh besar.

Kisah Suprayitno menjadi potret nyata betapa kerasnya kehidupan bagi mereka yang terpinggirkan oleh keadaan. Di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi, ia tetap berusaha menjaga martabat dan kasih sayang sebagai seorang ayah. Ia tidak meminta banyak, hanya ingin bisa hidup layak dan melihat anaknya tumbuh tanpa kekurangan.

Masyarakat sekitar Karangrejo mengenal Suprayitno sebagai sosok yang sabar dan tidak pernah mengeluh. Meski hidupnya penuh penderitaan, ia selalu mengucap syukur atas setiap bantuan yang datang. Banyak warga yang tergerak membantu, baik dengan makanan, pakaian, maupun sekadar menemani berbincang untuk menghibur hatinya.

Semoga dengan tersampaikannya kisah ini, perhatian pemerintah daerah, pusat, dan para dermawan dapat tertuju pada Suprayitno dan keluarganya. Bantuan nyata sangat dibutuhkan agar ia bisa mendapatkan perawatan medis yang layak dan tempat tinggal yang lebih manusiawi. Di balik gerobak tua itu, tersimpan harapan besar seorang ayah yang tak pernah menyerah demi masa depan anaknya.

Penulis : Taufik.

Editor : Koko.