Mediasuarabangsa.com //Banyuwangi – Di tengah sejarah panjang PDI Perjuangan Kabupaten Banyuwangi yang tumbuh dari rahim perjuangan rakyat kecil, kaum marhaen, dan kader – kader kultural yang setia merawat nilai kebangsaan, muncul kegelisahan yang tidak bisa lagi diabaikan.
Terpilihnya seorang ketua yang tidak berakar pada tradisi nasionalis kerakyatan, bahkan asing dari denyut ideologis “ijon eh ijoan” yang selama ini menjadi ruh gerakan kultural partai, menimbulkan tanda tanya besar di kalangan akar rumput.
Proses yang terjadi tidak dipahami sebagai lahir dari dialektika kader dan aspirasi struktural, melainkan kuat beraroma rekayasa kekuasaan dikendalikan oleh segelintir pihak yang menjadikan partai sebagai alat kepentingan pribadi, bukan sebagai alat perjuangan rakyat.
Jika partai dibiarkan disandera oleh ambisi personal, maka yang tercederai bukan hanya organisasi, tetapi juga sejarah, ideologi, dan kepercayaan rakyat.
Kader-kader kultural, yang selama ini bekerja dalam senyap di desa, di komunitas, di ruang sosial tidak boleh dipinggirkan atau dibungkam. Justru merekalah penjaga moral dan ideologi partai.
Saat nilai-nilai nasionalisme kerakyatan dikaburkan oleh transaksi kekuasaan, maka diam adalah bentuk pengkhianatan.
Sudah saatnya kader kultural bangkit, bergerak secara sadar, terorganisir, dan bermartabat. Menolak keras segala bentuk manipulasi politik internal yang mencederai demokrasi partai. Menyuarakan perlawanan ideologis, bukan dengan amarah, tetapi dengan keberanian, konsistensi, dan kesetiaan pada garis perjuangan Bung Karno dan PDI Perjuangan itu sendiri.
Ini bukan soal siapa, melainkan soal nilai. Bukan soal jabatan, melainkan soal arah.
PDI Perjuangan Banyuwangi harus kembali ke tangan kader sejati yang berjuang, bukan yang menunggangi.
Narator : Bibib.
Editor : Koko.

