Mediasuarabangsa.com //Banyuwangi – Kalau orang melihat Banyuwangi hari ini, yang terlihat adalah panggungnya. Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival, desa-desa wisata yang viral, pelayanan Mal Pelayanan Publik yang selalu jadi rujukan nasional, dan deretan penghargaan dari pemerintah pusat yang seolah tak pernah putus.

Tapi di balik semua panggung megah itu, ada ruang mesin yang jarang disorot kamera. Di sanalah sosok *Yayan, Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi* bekerja.

Orang Banyuwangi memanggilnya *Kang Yayan*.

Ia bukan tipe pejabat yang suka tampil di depan. Pidatonya tidak meledak-ledak, bajunya tidak mencolok. Tapi di kalangan birokrasi Banyuwangi, semua orang tahu: kalau Bupati adalah nahkoda yang menentukan arah kapal, maka Kang Yayan adalah kepala kamar mesin yang memastikan kapal itu benar-benar jalan, tidak mogok di tengah laut.

Sejak menjabat Sekda, Kang Yayan memilih peran yang paling sulit: menjadi operator birokrasi.

Di tangannya, ribuan program tidak berhenti sebagai dokumen di atas meja. Ia yang memastikan:

1. *Anggaran bergerak cepat tapi tertib.* Ia hafal betul, program sehebat apapun akan mati kalau birokrasi lambat. Maka ia memotong jalur-jalur berbelit, memaksa OPD bergerak dengan sistem, bukan dengan kebiasaan lama.

2. *Inovasi tidak hanya jadi jargon.* Banyuwangi dikenal sebagai kabupaten paling inovatif di Indonesia bukan karena banyak ide, tapi karena ide-ide itu dieksekusi sampai ke desa. Di sinilah Kang Yayan main. Ia yang mengawal setiap inovasi dari ruang rapat sampai ke aplikasi di HP warga.

3. *Penghargaan adalah efek samping, bukan tujuan.* Ketika Banyuwangi meraih penghargaan Smart City, Kabupaten Sehat, hingga predikat WTP berturut-turut, Kang Yayan selalu berkata di internal: “Penghargaan itu hanya struk, yang penting belanjanya benar.” Prinsip itu yang membuat Banyuwangi tidak kejar piala, tapi piala yang datang sendiri.

Para camat dan kepala dinas di Banyuwangi mengenal gaya Kang Yayan: detail, disiplin, dan tidak bisa ditawar soal data. Jam 6 pagi, grup WA koordinasi sudah aktif. Laporan yang tidak berbasis data akan dikembalikan. Tapi dibalik ketegasannya, ia dikenal sebagai pelindung anak buahnya. Ia akan pasang badan kalau program itu benar, tapi ia juga yang pertama menegur kalau ada yang main-main dengan anggaran rakyat.

Inilah yang membuat birokrasi Banyuwangi beda. Di banyak daerah, Sekda hanya jadi jabatan administratif. Di Banyuwangi, di tangan Kang Yayan, Sekda menjadi * OPERATOR UTAMA *. Ia adalah jembatan antara visi politik Bupati dan kerja teknis ribuan ASN hingga ke tingkat desa.

Maka tidak heran jika hari ini Banyuwangi disebut-sebut sebagai laboratorium tata kelola pemerintahan terbaik di Jawa Timur. Karena di balik setiap penghargaan yang diterima Bupati di Jakarta, ada kerja senyap Kang Yayan di Banyuwangi yang memastikan mesin birokrasi itu tetap menyala, presisi, dan tidak pernah lelah.

Banyuwangi boleh punya banyak pahlawan di panggung depan. Tapi di ruang mesinnya, ada satu nama yang selalu disebut dengan hormat oleh ASN-nya: Kang Yayan, Sang Operator Birokrasi Tangguh.

Banyuwangi pasti semakin pesat kemajuan nya di bawah tongkat komando beliau..ujar pentolan ALIANSI RAKYAT BANYUWANGI …bang Mujiono mandar